Akhir tahun lalu, dalam perjalanan pulang ke Malang saya mulai menulis. Seperti biasa dimulai tanpa arah, lantas akhirnya berkembang membengkak sampai ke bentuk yang panjang dan lebar begini. Tidak pernah ada maksud untuk menulis sepanjang ini; sejujurnya hanya karena saking memuaskannya proses penulisan itu sendiri. Dan kritik dari banyak orang sejauh ini adalah cara menulis saya berantakan dan susah dimengerti. Saya mengerti: ukuran catatan ini jelas hanya akan mendukung pandangan tersebut. Akan tetapi, percayalah, besar energi yang sudah terkerahkan untuk berusaha merapikan catatan ini dan dengannya membuktikan bahwa para kritikus tersebut sebenarnya salah dan sesungguhnya merekalah yang tidak mampu membaca secara baik dan benar. Saya bagi catatan ini sekenanya menjadi bagian-bagian; siapa tahu bisa mencegah kebingungan anda. Selamat membaca:
Bagian Pertama: Tentang Kegiatan Menulis dan Bahasa Indonesia
Menulis. Aduh, betapa nikmatnya. Kombinasi antara tantangan kreativitas dan banyaknya kemungkinan akan subyek yang bakal tertulis betul-betul membuatku semakin bergairah untuk menulis. Sungguh, betul-betul luar biasa rasanya. Kepuasan yang mendefinisikan seorang yang menulis. Pembaca yang gemar main serong (maksudku: bukan pembaca yang setia; hehehe), sebagai orang yang mampu membaca dan mengerti, tentunya ada kemungkinan anda bisa setuju kalau saya bilang sarana terpenting yang paling sering digunakan seorang penulis (atau siapa saja, sih, sebetulnya) untuk meluapkan maksud dan pikirannya adalah kalimat-kalimat yang dia pakai.
Bukan kata. Kata adalah komponen kalimat; bahan kalimat. Bersama dengan kata-kata lain, sebuah kata bekerja sama untuk memberi setiap kalimat sebuah ciri tersendiri.
Kalimat, disitu intinya. Inti berbahasa. Seperti kita manusia, kalimat punya identitas tersendiri. Tidak peduli berapa kali pun kalimat yang sama ditulis, dia tidak mungkin berubah dengan sendirinya. Kalimat yang sama, di lain waktu pun terdengar atau terbaca jelas kalau kita kenali. Kalimat tersebut tetap sama; tetap kalimat yang kita sudah kenal sebelumnya.
Bukan paragraf. Paragraf adalah sekelompok kalimat yang sepemikiran; partai kalimat. Beberapa kalimat berbeda yang punya tujuan yang sama.
Otak saya yang terus berpikir dengan sendirinya ini telah mencapai kesimpulan-kesimpulan di atas.
Titik tumpu perbahasaan: kalimat. Menurut selera saya, kalimat itu paling enak disajikan dan disantap panjang-panjang. Apalagi kalau diperpanjang dengan rapi sehingga memuat seluruh spektrum maksud sang penulis sementara menjaganya di dalam aliran yang tidak terputus, bisa merubah anda dari sekedar biasa-biasa saja jadi penuh sukacita. Bagi saya pribadi, tidak hanya menulis kalimat panjang tapi juga membaca sebuah kalimat yang terasa tanpa akhir, memberi sebuah kepuasan tersendiri (almarhum penulis Hunter S. Thompson adalah raja kalimat panjang, saya kira). Tapi itu hanya selera pribadi; menulis apa saja–panjang/pendek, lebar/sempit, sopan/jorok–tetap banyak bagusnya. Pesan saya, seorang pecandu kegiatan menulis, kepada anda: menulislah, dan anda akan memanen berkahnya.
Pembaca, setelah menulis apa yang terketik di atas, entah kenapa saya terbawa ke sebuah pemikiran yang pernah saya miliki. Berkenaan dengan bahasa Indonesia. Begini, masalah saya adalah berkaitan dengan kejarangan pemakaian, secara baik dan benar, bahasa kita itu. Pemakaian yang selayaknya, semestinya, dan seharusnya diterapkan oleh para pemiliknya. Sama seperti bahasa nasional lainnya di dunia ini. Pemakaian yang baik dan benar, terlalu mulukkah permintaan itu?
Baik, saya akui opini “secara baik dan benar” tersebut di atas sedikit didasari oleh kecenderungan untuk memperhatikan detil-detil yang, mungkin bagi kebanyakan anggota masyarakat, dianggap tidak penting. Contoh, di dunia bahasa tulisan: lihatlah sekeliling anda dan carilah sebuah contoh tulisan. Besar kemungkinan sang penulis gagal menggunakan atau bahkan sama sekali tidak memanfaatkan peluang besar untuk berbahasa Indonesia dengan becus. Apalagi kalau ditambah trik-trik perusak macam menulis berselang-seling antara huruf kapital dan kecil, sok kebarat-baratan, dan yang paling kronis dan menjijikkan: kecenderungan menyingkat yang eksesif. Menjengkelkan sekali. Apa yang para penulis tersebut kira? Sebagai seorang yang menulis, sepantasnya menjunjung tinggi kegiatan yang ditekuni. Kalau tidak, kasihan yang baca; tidak anda hormati, menurut saya. Ya, bisa saya maklumi mereka yang jarang atau baru saja mulai menulis; tapi acapkali terbaca tulisan oleh penulis-penulis berpengalaman (mereka yang jelas terbukti memiliki banyak tulisan lain) juga amburadul. Seperti disengaja, kegiatan-kegiatan “menembak kaki-sendiri” itu mereka lakukan.
Tapi masalahnya tertanam lebih dalam dari itu. Bukan hanya perihal format menulis penulis-penulis amatiran belaka. Keheranan saya akan jarangnya bahasa Indonesia kita jumpai sepertinya tertanam di dalam hati masyarakat Indonesia sendiri. Kemalasan kita (ya, murni kemalasan dan ketidakmauan kita) untuk menjunjungnya. Justru dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, seperti ada peraturan yang paten untuk menggunakan bahasa daerah sesering mungkin. Macam faktor pembagi terkecil di Matematika: kalau anda katakanlah angka 9 dan saya 6, berarti hampir pasti kita akan bicara dalam bahasa 3. Karena kita sama-sama berasal dari daerah/pulau/suku 3. Baru saat salah satu dari kita bertemu dengan seorang 8 atau berapapun angka yang bukan faktor dari 3, kita pakai bahasa 1; faktor semua angka; Bahasa Indonesia. Angka manapun mengerti apa yang harus dilakukan saat dirinya dibagi dengan angka 1 (secara Matematika, idealnya tepat 1.0000~dan nol seterusnya sampai akhir jaman); hasilnya adalah dirinya sendiri. Hal ini saya analogikan dengan bagaimana semua warga negara Indonesia mengerti apa yang harus dilakukan saat dirinya diajak berbahasa Indonesia; hasilnya adalah bahasa Indonesia itu sendiri.
Paling tidak seharusnya. Sayang sekali, entah kapan dalam sejarah bangsa besar ini, terjadi penyimpangan praktek dari prinsip tersebut dan banyak orang justru membalas ajakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan membisu atau hanya satu-dua kata.
Jangan salah, sama sekali tidak ada salahnya berbahasa daerah. Tidak, saya tidak mengecam penggunaan bahasa daerah. Justru bagus menjaga tradisi dan keakraban. Tapi tidakkah kita membelakangkan kepentingan negara demi kepentingan kelompok kalau bahasa daerah yang melulu dipakai dan dilestarikan sedemikian kayanya sedangkan bahasa Indonesia dipakai hanya oleh para aparat negara di acara-acara berskala resmi, pewarta berita di televisi maupun koran, serta operator-operator yang mengumumkan pemberitahuan di tempat-tempat umum? Memang sudah lama sekali, 80 tahun yang lalu angkanya, tapi tidakkah Sumpah Pemuda mengharuskan kita untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan? Nah, sekarang siapa yang memegang teguh sumpah itu? Tidak banyak, saya kira. Lepas dari beberapa kasus tertentu, bahasa Indonesia biasanya dengan sengaja ditelantarkan. Sekarang, sepertinya bahasa pemersatu kita bukannya menyatukan tapi malah membangun batas-batas. Ya; baik; tentu; dengan menggunakan bahasa Indonesia, anda dan lawan bicara anda yang berasal dari sudut berantah nusantara bisa merobohkan satu batas pemahaman dan saling mengerti apa yang dimaksud masing-masing pihak. Akan tetapi, sesungguhnya obrolan tersebut dipenuhi rasa keasingan yang tinggi, bukan? Itulah. Poin saya: dengan menggunakan bahasa Indonesia, timbul rasa asing. Karena memang kebanyakan dari kita memakai bahasa Indonesia khusus saat menghadapi seseorang yang kita anggap asing. Seseorang yang anda kira atau paham betul tidak memiliki faktor pembagi yang sama dengan anda. Seseorang yang jauh berbeda dengan anda. Dan dengan mengetahui kalau lawan bicara kita ini asing–tidak sekelompok dengan kita–sebuah batas penghambat kerjasama kan justru tercipta? Inikah yang kita mau? Jelas bukan. Bahasa Indonesia, bahasa pemersatu. Tapi kenapa justru menimbulkan rasa asing? Bahkan tidak jarang lawan bicara justru jadi penuh curiga dan malah langsung menjauh kalau diajak berbahasa Indonesia. Heran. Apa mungkin mereka itu percaya kalau salah satu kebiasaan sang setan adalah berbahasa Indonesia? Siapa yang tahu? Yang jelas, buah dari berbahasa Indonesia ada dua dan uniknya berlawanan: persatuan dari pengertian serta pemecah dari keasingan.
Sudut pandang ini, meski berasal hanya dari beberapa sudut negara yang pernah saya kunjungi, terlihat jelas dan kuat sekali. Saking kuat dan jelasnya, saya tidak ragu mengambil kesimpulan kalau begitulah kondisinya di seantero Indonesia. Menyedihkan.
Bagian 2: Mari Berbahasa Indonesia
Solusi (dari masalah utama di bagian pertama) yang saya tawarkan kepada hadirin pembaca sekalian adalah yang paling sederhana: mari kita gunakan bahasa Indonesia. Oh tidak, tentu tidak dengan kroni-kroni terakrab anda; tenang, lagipula apa faedahnya mengencerkan keakraban yang sudah kental? Yang saya inginkan adalah penggunaan yang wajar saja, lah. Mungkin dengan tetangga jauh atau pak pos atau siapapun yang kebetulan lagi lewat. Atau kenapa tidak dengan seorang gadis yang untuk pertama kalinya menarik perhatian anda? Harapan saya adalah timbulnya suatu tingkat kenyamanan pribadi untuk berbahasa Indonesia di dalam diri kita masing-masing yang nantinya perlahan-lahan mendorong datangnya penggunaan bahasa Indonesia yang meluas. Dengan begitu, kondisi yang saya bayangkan menunggu kita di masa depan adalah waktu di mana kita bisa berbahasa Indonesia dengan akrab dan tidak asing sambil tetap menjunjung tinggi tingkat pengertian dan transparansi yang universal terhadap warga negara Indonesia manapun. Transparansi itu satu efek samping yang bisa diraup dari penggunaan ekstensif bahasa Indonesia: akan hilang stigma-stigma yang datang dari penggunaan suatu bahasa tersendiri. Jadi, seseorang yang berasal dari luar kota tidak harus dianggap orang asing dan lantas dicurigai hanya karena tidak bisa berbahasa daerah tersebut. Demikian pula dia sendiri pun tidak perlu dua kali pikir untuk bergabung dalam sebuah perbincangan dengan masyarakat asli daerah tersebut. Tidak, takkan lagi dia merasa tidak mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Jadi, menurut saya, kalau kita, orang muda, mulai menggunakan bahasa Indonesia sesering mungkin, kita sama saja dengan menjamin bahwa semua orang sama terbukanya, sama bisa dimengertinya, dan, secara bahasa, berkedudukan sama. Tapi saya harap anda tidak beralih perhatian dari keuntungan utama: dijunjungnya pengertian antar semua pihak itu. Indonesia yang lebih mengerti satu sama lain adalah Indonesia yang lebih bisa bekerja sama memajukan negara. Sungguh, garis bawahi kata-kata berikut: kita menyia-nyiakan potensi kita–negara terbesar keempat!–dengan tidak berbahasa Indonesia.
Bagian 3: Hambatan-hambatan Besar yang (Mungkin) Mengakar
Akan makan waktu dan usaha, memang, mencapai masyarakat yang berbahasa Indonesia. Apalagi mengingat kalau sesungguhnya bahasa Indonesia adalah sesungguhnya sebuah bentuk sederhana dari sebuah bahasa daerah. Bahkan tertera di Wikipedia*1, baik yang versi bahasa Inggris maupun Indonesia: berasal dari semacam logat bahasa Melayu yang dipakai di kepulauan Riau (kini: propinsi Kepulauan Riau). Tenang pembaca, jangan khawatir, bukan hanya anda yang baru saja paham kalau bahasa Indonesia sebenarnya diadopsi dan sesungguhnya tidak dipakai oleh kebanyakan pendahulu kita. Jelas saja, bahkan dari sensus terkini, jumlah penduduk propinsi itu hanya sedikit di atas 0.5% dari jumlah total penduduk Indonesia. Ya, sepertinya hanya sekelumit dari kita yang bernenekmoyang pengguna bahasa Indonesia.
Nah, mengertikah anda, sekarang, kenapa bahasa Indonesia begitu tidak nyamannya duduk di lidah kita? Ya, rumusnya sebagai berikut: bahasa Indonesia = bahasa kepulauan Riau = bahasa daerah. Pantas saja begitu asing bagi kebanyakan kita. Pembaca, kalau anda mengira saya mencampur-adukkan bahasa nasional dengan bahasa regional, itu karena memang faktanya, sayang sekali, secara teknis demikian. Memang sudah kelewatan para penyusun kurikulum bahasa Indonesia, yang saya yakin dibayar begitu melimpahnya dengan uang hasil pajak dari kita semua. Tidak, bahkan setengah kali, dalam 12 tahun saya dicekoki bahasa Indonesia, ada pengajar yang membeberkan fakta kunci tersebut. Mungkin waktu saya masih tidak tanggap di kelas 1 SD diajarkan sebagai pengantar Bahasa Indonesia? Ah, biarlah; toh sudah lewat. Dari masalah ini, yang bisa saya petik adalah pesan berikut: kepada para orangtua harap catat baik-baik: beri tahu anak anda akan hal ini kalau dia sedang belajar mata pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh, dia akan menjadi seseorang yang lebih baik karenanya. Kepada yang lain, saya sungguh-sungguh memohon: sebarkanlah identitas asli bahasa Indonesia, seluas yang anda bisa.
Jadi, karena sudah terlanjur begitu adanya kondisi pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita, mari kita bahas lebih lanjut saja. Menurut saya, lepas dari tempat asalnya, satu lagi faktor yang membatasi penggunaan bahasa Indonesia yang meluas adalah kesederhanaannya. Sepertinya begini: supaya siapapun dimanapun di Indonesia sanggup mengerti sebuah bahasa pemersatu, para perintis negara ini memilih sebuah bahasa yang mudah dipelajari; bahasa yang sederhana dalam bentuk dan gramar (jujur, kata “gramar” saya gunakan hanya karena ketidakmampuan saya untuk menerjemahkan maupun mempelajari artinya; saya kira tuan-tuan yang menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia sebaiknya mencatat kejadian ini dan segera melalui jalur hukum menyerap kata “gramar” ke dalam bahasa Indonesia supaya tulisan saya ini sah secara bahasa Indonesia. Hehehehe…) Ehem, begini, kembali lagi: kesederhanaan pola-pola kalimat di bahasa Indonesia tingkat dasar yang memungkinkan siapa saja untuk mempelajarinya dengan mudah (ciri ini juga tercantum di Wikipedia) mungkin justru membentuk keterbiasaan dan kecenderungan di masyarakat sehingga menghalangi bahasa Indonesia itu sendiri untuk berkembang menjadi kaya dan menarik.
Pembaca, menghadapi sebuah dilema, saya. Di satu sisi, saya kira kesederhanaan bahasa ini mungkin alasannya karena memang belum terkembang dan nantinya, entah kapan, akan. Tapi peluang kalau bahasa Indonesia itu memang sudah kodratnya sederhana juga tidak kecil. Lagipula, ini bahasa yang sedang kita bicarakan. Siapa yang mengerti kenapa sebuah budaya menstrukturkan bahasanya masing-masing sedemikian rupa? Terbentuknya gramar sebuah bahasa sepertinya diputuskan hanya dari apa yang dirasa cocok oleh mereka yang pertama menggunakan bahasa itu kan? Jadi bagaimana kalau apa yang membentuk bahasa Indonesia sesungguhnya juga membatasinya untuk selalu tinggal di dalam kesederhanaan? Wah, membingungkan. Bagian dari diriku yang menikmati kalimat-kalimat rumit mengharapkan kemungkinan berkembangnya bahasa Indonesia sementara bagian yang sok tahu sedang berusaha memberikan sebuah penjelasan supaya kalau memang tidak bisa berkembang, bisa saya maklumi.
Bagian 4: Gotong-royong yang Berbeda
Lepas dari itu, spekulasi lebih lanjut dalam perjalanan saya mencari alasan akan kenapa jarang sekali bahasa Indonesia digunakan menjurus kepada prinsip dasar kehidupan masyarakat Indonesia: gotong-royong. Kenapa gotong-royong yang kini saya tuding sebagai alasannya? Karena gotong-royong mengumpulkan; mengelompokkan. Dan sungguh berlebihan, kegotongroyongan yang ada di masyarakat kita. Camkan kata berlebihan tadi: terlalu banyak, melewati batas. Bahkan kegiatan menyehatkan macam minum air putih pun kalau terlalu banyak bisa membunuh (Sungguh, keracunan air! Coba anda cari lewat google; terjadi kapan itu di kota Para Malaikat, negara bagian Kalifornia kalau tidak salah). Kembali lagi: berlebihan, gotong-royong kita. Di bawah bendera gotong-royong, kita semacam mengharuskan diri kita untuk mengaitkan diri kita dengan orang yang sekelompok. Nah, kecenderungan ini kemudian dipacu lebih lanjut dengan nyaman yang kita dapat dari kefamiliaran bersama teman-teman satu suku dan hasilnya adalah kita terperangkap berbahasa daerah melulu. Sekarang coba kita ambil kondisi yang terbalik dari gotong-royong: individualisme. Kalau masyarakat kita berprinsip individualisme dan bukan bergotongroyong, maka antara satu sama lain diantara kita akan berkobar dengan marak: aura keasingan yang mengotomatiskan penggunaan bahasa Indonesia seperti yang tertulis di sekian paragraf sebelum ini. Individualisme. Wah, mulai tidak nyaman saya membahas ini; jujurlah, pembaca, menurutmu apa berdosa aku ingin membarter apa yang dianggap pelopor bangsa ini sebagai panutan dengan prinsip utama budaya barat?
Dalam usaha membela diri, saya kira sesungguhnya banyak pula manfaat individualisme. Sebagai contoh, satu borok bangsa ini yang betul-betul menjengkelkan batin saya adalah begitu dipenuhinya media massa dengan kabar demonstrasi di sana-sini. Ini juga akibat gotong-royong yang berlebihan, kalau menurut saya. Coba, berapa demonstran yang sesungguhnya mengerti apa yang diorasikan dan berapa yang sebenarnya hanya ikut-ikut setuju? Bisa jadi mengejutkan, perbandingan tersebut. Kenapa banyak yang hanya ngikut setuju? Karena merasa diharuskan oleh gotong-royong kan? Tidak setuju dianggap membelot, merusak kebersamaan. Kapan majunya negeri ini kalau yang muda berpikir begitu? Nah, akibat dari keterlalugotongroyongan (kata yang panjang, memang) saya umpamakan begini: kalau anda sedang praktek di laboratorium, sama banyakkah yang bakal anda pelajari kalau kelompok praktek anda 3 orang dibandingkan dengan kalau selusin atau lebih? Sudah pasti kalau terlalu banyak anggota kelompok anda, maka akan ada anggota yang menganggur (bahkan seringnya justru dengan sengaja menganggurkan diri) dan hanya mengandalkan anggota yang lain. Dan itulah yang saya kira seringkali terjadi di Indonesia. Memegang terlalu teguh paham gotong-royong, kita mudah sekali terpeleset ke jurang dimana hanya sedikit yang berkembang dan lainnya tertinggal mengikut di belakang. Ilmu pengetahuan tidak menular lewat udara, tidak bisa kita hanya sekelompok dengan yang pintar lantas jadi pintar; kita harus belajar, kalau tidak kita berarti hanya pura-pura pintar. Ya, saya paham ada banyak perbedaan antara proses berdemo di jalanan dan berpraktek di laboratorium, tapi paling tidak dengan demikian sekaligus mengulang pentingnya kita sebagai makhluk pribadi dan bukan hanya makhluk sosial. Kalau anda bisa memuat analogi antara tidak majunya ilmu pengetahuan peserta praktek yang nganggur dengan tidak majunya pengertian dan pemahaman masalah–yang mana jelas membantu proses pencarian solusi itu sendiri–yang diderita para demonstran ikut-ikut, maka lebih bagus lagi; karena itu maksud saya.
Tawaran solusi berkenaan dengan keterlalugotongroyongan adalah sebuah konsep yang saya kira tidak bisa saya panggil selain gotongroyong-kolektif. Jadi dengan masih bertujuan agar kita, sebagai satu kesatuan, bisa maju bersama, tapi dengan sedikit dosis individualisme yang lebih. Mengambil contoh demonstrasi lagi, daripada beberapa demonstran ikut-ikut tersebut bergabung dengan sebuah kelompok dan sekedar mengikuti persetujuan dan konsensus kelompok tersebut, tidakkah lebih baik kalau masing-masing berkonsentrasi untuk memajukan dirinya sendiri? Dengan memindahkan fokus usaha pemajuan dari pihak-pihak berwenang ke diri kita sendiri, kita bisa membangun negara ini menuju kebesaran yang sepantasnya kita miliki. Karena kalau individu berkembang–secara garis besar, pasti dalam bidang ekonomi–maka ekonomi kita bersama semakin maju. Ekonomi kita bersama. Jadi hasil akhirnya sama dengan apa yang dimaksud gotong-royong kan? Kita maju bersama, melalui cara: kita maju masing-masing. Saya kira mungkin sekali gotongroyong-kolektif bisa berhasil.
Lagipula, konsep gotong-royong yang begitu seringnya dipakai Soekarno dalam pidato-pidatonya kan memang sebenarnya adalah konsep kerjasama–kooperasi–antara para petani yang tinggal berdekatan. Bersama-sama mengolah lahan sawah, dan bersama-sama meraup keuntungannya. Tapi itu di dalam sebuah masyarakat agraris. Sayang sekali kalau skalanya diperbesar ke ukuran sebuah negara, maka semakin banyak profesi dan pola pikir yang berbeda yang tidak bisa dipaksa bergotong-royong. Coba, katakanlah seorang insinyur listrik berusaha untuk bergotong-royong dengan seorang pedagang, apa hasil yang mereka raih? Nol. Tentu, kalau mereka bergotong-royong secara harafiah, mungkin banyak padi yang bisa mereka hasilkan. Tapi, andaikan mereka itu saking ahlinya dalam berlistrik dan berdagang sampai-sampai sama sekali tidak mengerti akan keberadaan kegiatan bertani, maka celakalah mereka berdua; tidak mungkin maju. Tidak peduli sekeras apa mereka berusaha untuk bergotong-royong bersama.
Dan lagi, kalau boleh saya tambahkan, gotong-royong kita yang berlebihan–yang saking merusaknya sampai-sampai kita anggap benar–pada dasarnya menjurus ke sosialisme; paham yang intinya ingin memajukan rakyat secara bersama-sama. Semua komponen masyarakat, maju bersama. Sama rata. Tapi jelas sosialisme tidak mungkin berhasil, justru saya yakin hasil dari sosialisme adalah kestagnanan–ketinggalditempatan–sebuah rakyat secara bersama-sama. Sama rata. Tinggal terus di bawah. Dan begitu itu kita selama ini kan? Hanya nongkrong berkeliling bersama-sama, menikmati tidak adanya kegiatan sambil sesekali menertawakan diri sendiri dengan sedikit perasaan heran akan kenapa kita masih saja tidak maju. Sungguh, menyedihkan sekaligus lucu.
Bagian Terakhir: Hasil Dari Berbahasa Indonesia dan Bergotong-royong Kolektif
Kalau boleh saya jungkrakkan keprihatinan anda akan sudut pandang saya yang begitu jeleknya terhadap kita sebagai masyarakat, menjadi sesuatu yang lebih buruk, maka persilahkan saya mendikte anda. Baik, dengan begitu otomatis saya persilahkan anda untuk meluapkan angkara murka sekiranya pendiktean saya ini menyinggung–atau tepatnya “sudah menyinggung” mengingat keseluruhan artikel ini sesungguhnya adalah kumpulan dikte yang berantakan–perasaan anda:
Yang pertama, berbahasalah Indonesia. Sekenanya saja; sebisanya. Dalam lisan, tulisan, atau keduanya…pilihlah. Yang mana yang kau nyaman dengan? Pilihlah! Apa yang saya mohon dengan sangat hanya pemakaian bahasa Indonesia. Langkah pertama itu dulu. Saya yakin langkah kedua akan jatuh otomatis. Karena kalau kita, generasi sekarang mulai memakai bahasa Indonesia, maka nantinya entah kapan sekian generasi ke depan, bahasa Indonesia bakal akan berkembang menyempurnakan dirinya sendiri. Dia bakal menjadi suatu sarana yang bagus, yang kita tidak malu untuk pakai berbahasa; kapan saja dimana saja. Dalam kondisi itu, di masa depan itu, tentunya peraturan dan standar perbahasaan juga akan ikut berkembang dan tentu akan banyak juga terjadi penyalahgunaan bahasa Indonesia yang kelewat salah. Tentu itu. Tapi kesalahan tersebut diukur dari standar yang berbeda, standar yang memang secara waktu sudah lebih maju daripada standar kita sekarang ini. Dan mungkin itu yang saya harapkan: sebuah standar berbahasa Indonesia yang berkembang bersama pemakainya; bukannya justru mengekang. Supaya nantinya bahasa kita ini standarnya berkualitas lebih. Semakin kaya sebuah bahasa semakin banyak jalan untuk mengharumkan nama bangsa yang memakainya, kan?
Yang kedua, mengenai gotongroyong-kolektif itu tadi, tidak bisa bicara banyak saya. Apalagi dengan mempercayai wajibnya manusia sebagai pribadi lebih dijunjung lagi berarti juga mempercayai bahwa anda punya hak pribadi untuk memutuskan sendiri apakah gotong-royong kolektif adalah sebuah konsep yang durhaka atau bakal berhasil. Kalau anda seperti saya, optimis akan hal ini, maka tidak ada secuilpun keraguan di benak saya kalau anda bakal berjuang memajukan diri anda sendiri sekuat tenaga. Saya ucapkan selamat berjuang dan semoga dengan demikian kita sekaligus memajukan bangsa ini bersama-sama.
Saya kira sampai disini dulu tulisan saya kali ini. Terima kasih sudah membaca.
-Stefano Haryono Pramono (Nama pena, ini. Jangan salah, jangan main-main. Heheheh…)
*1Memang banyak pihak meragukan sah tidaknya Wikipedia, tapi saya punya keyakinan kalau cukup banyak pakar bahasa Indonesia, baik dari dalam maupun luar negeri, yang doyan ber-Wikipedia sehingga apa yang dimuat di ensiklopedi bebas tersebut saya kira sudah melalui saringan persetujuan orang banyak. Seperti kata orang: “tidak mungkin semua orang selalu dibodohi”.
Catatan kaki: Penulis lahir dan dibesarkan sampai lulus SMP di Tembagapura lantas SMA di Malang. Melanjutkan kuliah di kota Butte (dibaca Byut), Amerika. Tapi sampai sekarang kalau pulang ke Malang. Jadi kalau anda menanyakan dari mana datangnya ocehan saya di atas, jawabannya dari memperhatikan pola kehidupan masyarakat Indonesia yang saya kenal: di Malang dan Tembagapura. Ya, kebanyakan observasi yang saya lakukan terjadi di Tembagapura dan di Malang, tapi tidak terbatas hanya di kedua tempat itu.
Catatan alas kaki (dibawah kaki, kan?): Penulis merasa yakin betul bahwa inilah tulisan terbaiknya sejauh ini. Terutama karena kebanyakan komentar di atas tersaji dalam gaya yang membuat diri ini merasa seperti seorang jurnalis politik. Saya bayangkan semacam inilah perasaan Hunter Thompson setiap kali dia mengkritik berbagai hal saat dia bekerja menulis kolom-kolom di majalah “Batu Bergulir”. Sungguh, memuaskan sekali.